INDUSTRI SANDAL JEPIT PESANTREN SUNAN DRAJAT

 

Program Santripreneur melalui pelatihan produksi alas kaki yang dijalankan Kementerian Perindustrian di Pondok Pesantren (Ponpes) Sunan Drajat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tahun 2017 berbuah manis.  Hasilnya, lebih dari 4000 pasang sandal jepit spon diproduksi perbulan melalui unit usaha  ponpres tersebut.

Dilansir dari laman resmi Kemenperin, kemenperin.go.id, Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Kamis (24/5/2018), menyebutkan Dirjen IKM telah melatih sebanyak 20 santri Sunan Drajat untuk pembuatan alas kaki.

“Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM), kami telah melatih sebanyak 20 santri Ponpes Sunan Drajat untuk pembuatan alas kaki jenis sandal jepit spon,”ujar Gati Wibawaningsih.

Gati mengungkapkan, pelatihan tersebut dilaksanakan tahun lalu dan berlangsung selama delapan hari. Disini para santri diedukasi membuat sekitar 200 pasang sandal jepit spon. “Kami terus mendorong mereka untuk meningkatkan produktivitasnya. Bahan baku diperoleh dari Surabaya, dan saat ini sandal jepit mereka telah berhasil dipasarkan ke Bojonegoro, Gresik, Lamongan, Tuban, dan sekitarnya,”urainya.

Ponpes yang memiliki 12 ribu orang santri dan 1.041 orang tenaga pendidik ini, mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan operasionalnya. Bahkan memiliki beberapa unit usaha industri, di seperti produksi air minum dalam kemasan (AMDK), minuman ringan (jus mengkudu), kemiri sunan, garam samudra, dan pupuk.

“Guna menumbuhkan wirausaha industri baru dan pengembangan sektor IKM di lingkungan ponpes, kami meluncurkan program Santripreneur melalui pelaksanaan bimbingan teknis berupa pelatihan pengolahan ikan, revitalisasi industri garam SNI, industri alas kaki, dan pelatihan pembuatan lampu Light Emitting Diode (LED),” papar Gati.

Santripreneur juga sambungnya, bertujuan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) bertalenta di lingkungan ponpes, sehingga menjadi bekal para santi untuk belajar mandiri dan berwirausaha sebelum terjun ke masyarakat. “Mereka bisa menjadi agen pengembangan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat,” imbuhnya. Selain menjalankan program pelatihan, Kemenperin pun telah memfasilitasi pemberian alat dan mesin produksi industri kepada beberapa pondok pesantren.